Dokumen pribadi KH. M. Cholil Nafis., Lc., Ph.D

وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ

”Dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang berterima kasih.” (QS. Saba [34]:13)

Sering kali orang bersyukur jika telah mendapat yang diingin sehingga bersyukur atas karunia yang telah didapatkan sesuai yang diinginkan. Bahkan tidak jarang untuk mengekpresikan syukurnya dengan mengadakan ”syukuran” yang mengundang para kolega dan tetangga untuk turut merayakan kebahagiaannya. Sebaliknya, karena belum mendapatkan yang diinginkan maka seseorang tidak bersyukur bahkan cenderung menyesali nasibnya dan menyalahkan takdir yang telah Allah SWT gariskan. Sejatinya, syukur itu sendiri yang mendatangkan kebahagiaan. Maka seseorang akan merasa bahagia jika bersyukur dan merasa sengsara jika kufur (ingkar nikmat).

Munculnya rasa syukur karena mengerti akan adanya nikmat yang telah didapatkan. Karena semua dalam kehidupan manusia itu nikmat. Seperti oksigen yang dihirup setiap saat secara gratis, kesehatan, akal, kemampuan, pendengaran, penglihatan, berbicara, aliran darah yang mengalir di tubuh, dan keluarga. Bahkan karunia terbesar yang telah diberikan Allah adalah keimanan. Mestinya kita tergugah dan sadar untuk selalu memelihara dan memupuk rasa syukur terhadap karunia itu. Jika tidak bersyukur terhadap semua karunia yang telah ada dalam kehidupannya maka berarti telah ingkar (kufur) pada Allah Yang Maha Penyayang sebagai pemberi nikmat.

Rasulullah saw. adalah manusia pilihan yang telah dijamin masuk Surga, tetapi terus beribadah sepanjang siang dan malam, bahkan kakinya sampai bengkak saat shalat malam dan hatinya mendidih karena khusyu’ hanya ingin memperoleh predikat ”hamba yang bersyukur”. Nabi Sulaiman as. seorang manusia yang kaya ilmu, kaya harta, tinggi kekuasaan, tetapi tidak melupakan bersyukur, malah khawatir menjadi orang yang tidak mampu mensyukuri nikmat Kepada Allâh SWT. ( QS. Al-Naml [27]: 15-19).

Ada dua yang menyebabkan seseorang berpaling dari rasa syukur yaitu kebodohan dan kelalaian. Orang yang tidak tahu akan arti nikmat dan dari mana nikmat itu datangnya, bahkan merasa semuanya adalah hasil karya dan capaiannya sendiri akan menginkari dan kufur nikmat. Demikian juga orang yang ambisius dengan capaian hidup dan terlalu asyik dengan kehidupannya akan menyebabkan lalai untuk mensyukuri nikmat. Orang yang kufur nikmat akan menyebabkan lupa mengingat Allah SWT sehingga akan menyebabkan kufur kepada Allah SWT.

Rasa syukur lahir karena mengetahui nikmat yang diberikan oleh Dzat Yang maha Penyayang, keadaan bahagia yang dirasakan dengan datangnya nikmat dan menggunakan nikmat sesuai dengan syariah Allah SWT. Karenanya rasa syukur dapat diimplementasikan melalui hati, ucapan dan perbuatan.

Syukur dengan hati dilakukan dengan menyadari sepenuhnya bahwa nikmat  yang  diperoleh adalah semata-mata karena anugerah dan kemurahan Ilahi. Pengakuan yang tulus, bahwa semua kemampuan dan proses untuk mendapatkan nikmat adalah karunia Allah SWT dan menghindari menisbatkan capian dan nikmat semata-mata kemampuan diri. Sebab orang yang hanya percaya pada kemampuan diri dalam capaian sama dengan Qarun. Sifat Qarun   yang mengingkari  keberhasilannya  atas  bantuan dan karunia Ilahi,  dan   menegaskan   bahwa   semua   diperolehnya semata-mata karena kemampuannya, dinilai oleh Al-Quran sebagai kafir atau tidak mensyukuri nikmat-Nya  (Baca  kisahnya  dalam surat Al-Qashash (28): 76-82).

Syukur dengan lidah, dengan mengakui anugerah dan memuji Allah SWT pemberinya. Sedangkan syukur dengan perbuatan, ialah memanfaatkan anugerah yang diperoleh sesuai dengan tujuan dan yang dicintai oleh Allah SWT. Seperti menggunakan kesempatan dan umur untuk menjalankan perintah dan taat kepada Allah SWT, kemampuan dan akal untuk membangun kemaslahatan hidup di alam semesta dan persiapan menuju alam baka, dan menggunakan harta benda untuk mendukung dakwah di jalan Allah, membantu yang membutuhkan dan menggunakan harta sesuai syariah Allah SWT.

Jadi, syukur adalah bagian dari ujian Allah. Kita telah dianugerahkan banyak nikmat, diajarkan bagaimana memanfaatkannya dan bagaimana cara mensyukurinya, seyogyanya tunduk dan patuh kepada Yang Maha Pencipta. Namun Allah SWT memberikan pilihan kepada hambanya, apakah mau bersyukur atau kufur. ”Dan barangsiapa yang bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri, dan barangsiapa yang kufur (tidak bersyukur), maka sesungguhnya Tuhanku Mahakaya (tidak membutuhkan sesuatu) lagi Maha Mulia (QS An-Naml [27]: 40

Unduh Buku Gratis

Buku pilihan yang dapat diunduh bulan ini ialah Dampak Bahasa Dari Perbedaan Para Mujtahid

Unduh Disini

No Images

Investasi Sedekah

Buat pengunjung yang bermurah hati untuk bersedekah dan menyumbang untuk dakwah dan pembangunan pesantren Darul Qur'an Cendekia Amanah

Selengkapnya...

Galeri Video

Berisi kumpulan video menarik dari Ust Cholil Nafis yang merekam berbagai topik-topik terhangat yang dapat menjadi teladan dan bimbingan buat semua

Selengkapnya...

Galeri Gambar

Berisi kumpulan gambar menarik dan meme dari Ust Cholil Nafis yang dapat menjadi teladan dan bimbingan buat semua

Selengkapnya...

Go to top
JSN Boot template designed by JoomlaShine.com