Pertanyaan :

            Di sebagian toilet  baik itu di hotel, perkantoran atau masjid di Surabaya ini, untuk tempat kencing pria biasanya menggunakan dengan sistem berdiri dan cebok dengan aliran air dari kran. Ketika membersihkan air kencingnya sebagian tanpa di siram hanya diusap dengan air. Yang saya tanyakan, ustadz, bagaimana menurut Islam, kencing sambil berdiri dan  membersihkan air kencing hanya dengan diusap? Mohon penjelasan. Terima kasih.

Moh Nuh

Jl. Darmo kali Surabaya

Jawaban :

  1. Moh. Nuh yang budiman, kencing manusia dewasa termasuk najis sedang(mutawâsithoh), yang cara mencucinya harus dengan menghilangkan najis itu, baik bau, rasa dan warnanya dengan dibasuh  air yang suci dan mensucikan (thâhir muthahhir).

            Rasulullah saw ketika ditanya tentang cara mencuci najis kencing bayi, beliau menjawab, “Kencing bayi laki-laki  (belum umur dua tahun dan masih menyusu) cukup disiram air, sedangkan kencing bayi perempuan harus dibasuh.” (HR. Ahmad)

  1. Moh Nuh yang dimuliakan Allah SWT, Islam mengajarkan adab dan tata krama, termasuk tata krama buang air kencing. Di antaranya, hendaknya ketika kencing dalam keadaan duduk dan tidak dalam keadaan berdiri. Sayyidah ‘Aisyah menjelaskan tentang cara Rasulullah buang air kencing, “Barangsiapa yang menceritakan bahwa Rasulullah itu kencing berdiri  maka janganlah kalian percaya, tidaklah Rasulullah itu kencing kecuali dalam keadaan duduk.”(H.R. al-Khamsah)
  2. Moh Nuh, toilet untuk tempat kencing pria baik di hotel, perkantoran atau  bahkan di masjid  yang menggunakan sistem berdiri dan hanya menggunakan air kran untuk membersihkan itu sangat dikhawatirkan tidak sempurna untuk menyucikan kencing, karena  membersihkan kencing itu harus dibasuh(ghusl) dengan air sampai mengalir dan tidak cukup hanya diusap (mash) atau dibasahi saja. Jika hanya dibasahi apalagi hanya menggunakan kran, dikhawatirkan air bekas untuk bersuci yang sudah najis nyiprat ke celana atau anggota badan yang lain. Jika hal ini terjadi maka pakaian atau badan kita  terkena najis. Akibatnya, jika kita menuaiakan salat, maka salatnya tidak sah karena tidak memenuhi salah satu syarat sahnya salat, yaitu suci badan atau pakaian dari najis. Kasus seperti ini sering terjadi tanpa disadari oleh pelakunya. Karena itu, Rasulullah saw menyatakan banyak orang disiksa di alam kubur karena najis air kencing.

Di samping itu, kencing sambil berdiri dalam pandangan Islam termasuk perbuatan yang tidak memperhatikan etika. Maka dari itu  kaum muslimin ketika membangun toilet hendaknya memperhatikan petunjuk fiqih  baik konstruksinya atau tata ruangnya agar  sesuai dengan tuntunan islam. Wallâh a’lam bi al-showâb

Unduh Buku Gratis

Buku pilihan yang dapat diunduh bulan ini ialah Dampak Bahasa Dari Perbedaan Para Mujtahid

Unduh Disini

No Images

Investasi Sedekah

Buat pengunjung yang bermurah hati untuk bersedekah dan menyumbang untuk dakwah dan pembangunan pesantren Darul Qur'an Cendekia Amanah

Selengkapnya...

Galeri Video

Berisi kumpulan video menarik dari Ust Cholil Nafis yang merekam berbagai topik-topik terhangat yang dapat menjadi teladan dan bimbingan buat semua

Selengkapnya...

Galeri Gambar

Berisi kumpulan gambar menarik dan meme dari Ust Cholil Nafis yang dapat menjadi teladan dan bimbingan buat semua

Selengkapnya...

Go to top
JSN Boot template designed by JoomlaShine.com